Kilas Babel – Lugas, cerdas, penuh dengan visi. Sepertinya tiga kata tersebut belum sepenuhnya menggambarkan sisi lain dari sosok perempuan satu ini. Dengan sikap ramah yang mencirikan karakter asli orang Bangka Belitung, berpadu dengan dinamisnya dalam berpikir, membuat perempuan yang sekarang menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sungailiat ini layak menyandang gelar sosok inspiratif.
Nama lengkapnya dr. Ria Agustine. Lahir di Pangkalpinang dan menghabiskan masa remaja di Toboali Kabupaten Bangka Selatan. Tumbuh dan berkembang di dua wilayah dengan georafis yang berbeda, menempa sosok Ria muda menjadi individu yang matang dari segi pemikiran dan kuat dari sisi mental.
Selesai mengenyam pendidikan sekolah menengah di tanah kelahiran, Ria memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta. Berada jauh dari keluarga, ditambah dengan modal sikap mental yang kuat, membuat jalannya meraih masa depan yang baik semakin terbuka lebar.
Usai menuntaskan pendidikan kedokterannya, Ria memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai pelayanan masyarakat dengan basis medik yang dimilikinya. Ia kemudian bergabung pada program pemerintah melalui program dokter PTT dan penempatan pertamanya, ibu satu anak ini harus bertugas di Kecamatan Lepar Pongok.
Sebagaimana kita ketahui, secara geografis maupun bentang alam, Lepar Pongok adalah wilayah kepulauan yang tentu secara medan maupun dari sisi pelayanan, memiliki tantangan yang cukup berat. Namun, dengan integritas dan rasa pengabdian, ia memutuskan menerima tantangan itu.
“Saya sih ga membayangkan waktu di Lepar Pongok. Listrik belum ada dan masih menggunakan genset, air bersih juga sulit dan kita harus beli. Tapi Banyak pelajaran yang saya petik ketika masih bertugas sebagai dokter PTT di sana. Terus terang saya betah dan sangat menikmati. Walaupun dari sisi geografis cukup sulit akses ke sana, karena harus menempuh jarak dan transportasi juga hanya mengandalkan perahu atau kapal,” buka Ria kepada kilas.babel.com, Selasa (28/12).
Usai menuntaskan program PTT, Ria mengaku memutuskan untuk menikah dan sempat mengikuti sang suami untuk bertugas di Sulawesi Barat. Kemudian tahun 2010 Ria dan suami mencoba mengikuti seleksi CPNS di Babel dan mereka pun lulus dengan penempatan tugas masing-masing di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dan sang suami bertugas di RSUD Sungailiat.
Memutuskan berkarir sebagai aparatur pemerintah ternyata menjadi pilihan dan jalan hidup yang tepat bagi Ria. Perlahan tapi pasti, karir istri dari dr. Amar Yasin, Sp.O.G ini terbilang moncer!
Memulai tugas sebagai Fungsional Dokter, Ria kemudian dipercaya mengemban amanah di jabatan struktural pada intitusi Rumah Sakit Jiwa. Tercatat, perempuan 40 tahun ini pernah menjadi Kabid Pelayanan Medik dan sekarang menjadi orang nomor satu atau direktur di rumah sakit tersebut.

Sebuah pencapaian yang luar biasa tentunya, mengingat di usianya masih terbilang cukup muda, ditambah lagi dirinya seorang perempuan, namun ia berhasil mematahkan hegemoni gender dalam khazanah kepemimpinan di institusi pemerintah daerah khususnya di lingkup Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
“Saya berpandangan, pada prinsipnya gender bukanlah sebuah pembatas. Laki-laki dan perempuan memiliki akses yang sama dalam pembangunan. Di Pemprov Babel misalnya, banyak kok jabatan-jabatan strategis yang diduduki oleh kaum perempuan. Soal utamanya bukan melulu tentang gender. Tapi bagaimana kiprah kita sebagai perempuan untuk mampu memposisikan diri secara tepat, baik dalam karir dan pengabdian, maupun secara kodrat sebagai seorang perempuan,” papar Ria.
Menjadi orang nomor satu sekaligus pemimpin pada instansi pelayanan seperti RSJ, tentu bukan perkara mudah. Apalagi di era sekarang, dinamika pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tapi juga aspek-aspek lain seperti kesehatan jiwa contohnya.
Berkenaan dengan itu, Ria mengaku mem-branding masyarakat terkait peran rumah sakit jiwa merupakan target realistis yang ia emban saat ini. Wajar saja, ketika seseorang mendengar rumah sakit jiwa, orang tersebut akan berpikiran bahwa unit pelayanan kesehatan satu ini selalu berurusan dengan orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Padahal tidak demikian. Faktanya, tugas serta fungsi RSJ dalam kaidah pelayanan sudah sangat jelas.

“Makanya saya sering bilang ke rekan-rekan di RSJ, bahwa sesunguhnya yang menjadi hambatan itu sebenarnya adalah tantangan. Dunia kesehatan jiwa itu stigmanya besar, beda dengan aspek kesehatan lain. Tugas kami sekarang adalah bagaimana menggeser stigma RSJ ke kondisi yang lebih moderat. Untuk itu, saya bersama tim di RSJ, kita eksplore semua tantangan itu. Kuncinya, dengan perencanaan yang matang, program yang jelas dan inovatif, kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat, saya yakin, semua tanggungjawab kita akan dicapai dengan baik” papar Ria.
Berbicara mengenai target kinerja, Ria menegaskan ia bersama seluruh tim di RSJ Sungailiat sudah berkomitmen untuk membenahi dari sektor pelayanan. Mulai dari cara pelayanan, kemudian metode dan media yang digunakan dalam pelayanan, fasilitas dan prasarana pendukung pelayanan serta aspek-aspek lain yang dinilai perlu untuk ditingkatkan dari sisi kualitas.
“Perlahan-lahan kita optimalkan. Kalau di rumah sakit, ada dua aspek utama. Pertama adalah akses dan kedua yakni mutu. Infrastruktur, SDM yang handal dan profesional sampai SOP harus kita upayakan semakin baik. Sekarang juga kami sedang merintis inovasi untuk ke depan, yakni bagaimana memudahkan seluruh user untuk mendapat akses pelayanan di RSJ. Kita tahu, sekarang musim penerimaan CPNS. Bagi saudara-saudara kita yang jauh seperti di Bangka Selatan, Bangka Barat atau Belitung, kan mereka cukup sulit karena faktor jarak. Untuk itu, tahun 2022, kita akan siapkan program mental health check up yang berbasis digital,” ungkap Ria.
Di era new normal serta dalam upaya mencegah persebaran pandemi Covid-19 seperti sekarang, Ria bersama tim RSJ Sungailiat memang lebih memfokuskan pembenahan dari aspek pelayanan. Tujuannya cukup sederhana, yakni mencegah kerumunan bagi masyarakat yang ada keperluan pelayanan di RSJ atau user , serta memudahkan akses atas pelayanan itu sendiri.
Saat disinggung berkaitan dengan target realistis dan harapan ke depan terutama dalam kiprahnya sebagai seorang direktur rumah sakit jiwa, Ria menegaskan untuk tetap komitmen pada target-target yang sudah ada. Pelayanan kesehatan jiwa sudah sangat jelas indikatornya, sudah ada undang-undangnya, peta jalan juga sudah ditetapkan baik dalam dokumen perencanaan di tingkat instansi maupun dalam usaha mendukung pencapaian visi misi kepala daerah.
“Pesan dan harapan saya terutama kepada seluruh teman-teman di RSJ Sungailat, yuk, kita berkontribusi semaksimal mungkin untuk pembangunan kesehatan di daerah sesuai fungsi, terus produktif dalam bekerja, kreatif dan inovatif. Kemudian untuk kaum perempuan yang sama-sama mengemban tugas sebagai ASN, mari upayakan segala potensi kita untuk instansi kita bekerja sekaligus menjadi istri dan ibu yang baik dalam keluarga,” pungkas Ria.

Biodata Singkat :
Nama : dr. Ria Agustine
TTL : Pangkalpinang, 15 Agustus 1981
Alamat : Jln. Jend. A. Yani Sungailiat
Suami : dr. Amar Yasin, Sp.O.G
Anak : M. Akhtar Rakhsa.
Penulis : dom007
Foto : Istimewa
Editor : Leona