Oleh :
Prof. Muhadam
(Ketua Harian MIPI/Guru Besar Ilmu Pemerintahan IPDN)
KILASBABEL.COM – Kita mulai lelah meraih mimpi yang pernah di ukir sejak muda. Menjadi setinggi-tingginya pemangku jabatan. Tak sedikit yang lelah keluar arena sebelum pertandingan benar-benar usai. Beberapa melanggar batas hingga terpaksa bersekolah kembali.
Kita mulai menerima kenyataan tanpa marah. Seakan lumrah dan mesti dilalui oleh siapa saja. Bukankah dunia hanya permainan dan sandiwara. Dunia hanya konsensus yang diorganisasikan oleh satu sama lain. Kita menjalankan peran dari habit masing-masing.
Kita mulai menyadari bahwa materi hanya kemewahan sebentar. Sesuatu yang rusak dan binasa. Kita mulai mencari hal yang kekal nan abadi. Sesuatu yang bersifat meta-fisik dan menjanjikan. Menjanjikan hal permanen dan selamanya.
Kita mulai bertransformasi dari kebiasaan rutin ke titik spiritual. Sebagian besar percaya lewat ritus menuntun kesana. Melepaskan diri dari keterikatan dunia yang membosankan. Kita ingin tiba di tempat yang menjanjikan kelanggengan. Bukan sesaat.
Dunia tempat mahluk bertahan hidup. Semua aktivitas sementara itu untuk tumbuh, berkembang dan mati. Sejauh kita mampu, hidup akan survive. Mereka yang kalah dengan sendirinya pergi tanpa penyesalan. Semacam hukum alam (sunnatullah).
Jabatan mulai disadari sebagai perkara biasa. Bukan hal yang amat dibanggakan seperti atribut dimasa muda. Kita mulai memasuki masa perenungan, tentang siapa kita, dari mana, dimana, dan akan kemana. Kita mulai bermigrasi dari habit dan rutin ke spiritualitas.
Kita mulai menguji relasi yang mungkin dapat diandalkan menemani hidup. Anak, istri, orang tua hingga teman sejawat. Seberapa kuat ikatan lewat ujian sehari-hari. Pertengkaran salah satu ujian. Apakah kita semakin kuat atau kian melemah.
Kita mulai malas mempertanyakan sesuatu. Membiarkan sebagai kepasrahan, atau berharap berhenti dengan sendirinya. Realitas itu menjadikan kita sering disangka permisif dan apatis. Toh ada tidaknya kita tak akan mengubah apa-apa kecuali hanyut bersama arus.
Kita mulai memeriksa sesuatu yang alami. Sesuatu yang apa adanya. Sesuatu yang jauh dari kepura-puraaan. Sesuatu yang jenin tanpa polesan. Sesuatu yang jujur tanpa pengkhianatan. Sesuatu yang murni tanpa pengawet. Sesuatu yang tanpa pamrih, kecuali keikhlasan.
Kita sedang atau berbenah kesana. Ke area spiritualitas lewat hati. Tak melulu rasionalitas yang sarat dialektika. Kita percaya dari hati kita mungkin bisa menyentuh langit. Kita bisa memilih untuk kesana, entah lewat cahaya seperti lilin, atau bersandar sebagai cermin yang memantulkan cahaya.
Barangkali dari situ kita kembali menjadi bayi yang polos. Sosok yang dulu begitu jujur tanpa pengaruh dan ketakutan. Lalu kembali ke titik dimana kita bermula. Di genggaman zat yang maha kuasa, Tuhan semesta alam, Hyang Widhi Wasa, pemilik segala sesuatu yang tak kuasa kita gambarkan.





