KILASBABEL.COM, TANJUNGPANDAN – Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Syarifah Amelia, melaksanakan penyerapan aspirasi masyarakat di Kelurahan Kota, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Jumat (16/1/2026) malam.
Antusiasme warga terlihat dari tingginya partisipasi dalam dialog yang berlangsung hangat dan terbuka.
Syarifah Amelia menyampaikan bahwa aspirasi yang disampaikan warga pada reses kali ini sebagian besar masih melanjutkan topik pembahasan pada sesi sebelumnya.
“Untuk reses malam ini alhamdulillah yang banyak hadir adalah warga-warga di sekitaran kota. Ada juga separuh dari warga Pangkallalang yang tadi tak sempat hadir. Mereka banyak yang melanjutkan topik yang tadi,” ujar Syarifah.
Baca Juga: Dari Jalan Rusak hingga Bantuan Tak Tepat Sasaran, Aspirasi Warga Mengemuka di Reses Agung Setiawan
Ia menuturkan, peserta reses malam hari didominasi oleh kaum ibu, sehingga isu yang mencuat lebih banyak berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti kesehatan, pendidikan, dan persoalan sosial lainnya.
Dalam dialog bersama warga, Syarifah Amelia juga menyinggung kondisi daerah yang saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan, terutama akibat keterbatasan ruang fiskal baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Menurutnya, keterbatasan anggaran berdampak pada terhambatnya sejumlah program pembangunan.
Baca Juga: Kasus Narkotika di Pangkalpinang Kembali Terungkap, Tersangka Punya Senpi Rakitan
“Pembangunan kita banyak terkendala karena APBD kita untuk tahun 2026 ini jauh berkurang. Kita hanya ketok palu di Rp1,9 triliun, padahal dua tahun lalu sempat menyentuh Rp3,5 triliun,” jelasnya.
Meski demikian, Syarifah mengapresiasi antusiasme warga, khususnya para ibu, yang aktif menyampaikan aspirasi dan harapan terkait pendidikan, kesehatan, serta kondisi fiskal daerah. Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap solid dan mengedepankan semangat gotong royong dalam menghadapi keterbatasan yang ada.
Selain itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi pembahasan dalam reses tersebut. Program ini dinilai memiliki potensi besar sebagai stimulan dan penggerak ekonomi riil di daerah. Namun demikian, sebagian warga mengeluhkan naiknya harga bahan pokok yang dirasakan belakangan ini.
“Karena kebutuhan kita dengan adanya MBG ini meningkat, tapi suplai dari luar Belitung masih stagnan,” ujarnya.
Aspirasi lain yang kembali mengemuka adalah permintaan percepatan pengesahan Peraturan Daerah (Perda) Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Menariknya, aspirasi tersebut juga datang dari warga Kota Tanjungpandan.
“Yang cukup menarik bagi saya, saya kira isu WPR ini hanya muncul di luar Kota Tanjungpandan, ternyata warga Tanjungpandan juga meminta agar Perda WPR dipercepat,” ungkap Syarifah.
Ia menambahkan, hal tersebut menjadi catatan penting bahwa sektor pertambangan masih sangat mengakar dalam kehidupan masyarakat. Belum pulihnya sektor pariwisata, mahalnya harga tiket pesawat, serta dampak ekonomi yang dirasakan pelaku UMKM mendorong sebagian masyarakat kembali menggantungkan harapan pada sektor pertambangan.
“Ini menjadi realitas yang harus kita sikapi bersama secara bijak dan berpihak pada kepentingan masyarakat,” tandasnya.(Ari/SP)





