Mengungkap Rahasia Ayat Kursi yang Membuat Hati Tenang dan Iman Tegak

oleh -194 Dilihat
Ilustrasi. (net)

KILASBABEL.COM – Ayat Kursi bukan sekadar ayat yang dihafal sejak kecil atau dibaca berulang kali sebagai wirid harian. Ia adalah benteng tauhid yang dibangun dengan kata-kata, mengunci celah ketakutan manusia, dan menegakkan kesadaran bahwa seluruh semesta berada dalam genggaman satu kekuasaan yang tak pernah lengah. Setiap kalimatnya seperti palu yang meruntuhkan ilusi tentang kekuatan selain Allah, sekaligus menenangkan hati yang lelah menghadapi dunia yang rapuh dan berubah-ubah.

Di balik kepopulerannya sebagai ayat perlindungan, tersimpan rahasia makna yang jauh lebih dalam: Ayat Kursi adalah peta akidah, ringkasan keimanan, dan deklarasi kemerdekaan ruhani manusia dari segala bentuk ketergantungan selain Allah. Para ulama tafsir besar menyelaminya bukan hanya sebagai teks suci, tetapi sebagai bangunan makna yang kokoh mengajarkan siapa Allah, siapa manusia, dan di mana posisi alam semesta dalam tatanan Ilahi.

Berikut ini adalah bunyi Ayat Kursi yang merupakan ayat ke-255 Surah al-Baqarah :

للَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Rahasia Ayat Kursi

Tafsir Mafātīḥ al-Ghaib (Tafsir al-Kabīr) Fakhruddin ar-Razi dan Tafsir ath-Thabari, menjelaskan kandungan ayat kursi sebagai berikut:

Ayat Kursi (QS. al-Baqarah: 255) menempati posisi istimewa dalam Alquran. Ia bukan sekadar ayat tentang keagungan Allah, melainkan ringkasan tauhid dalam bentuk paling padat, paling dalam, dan paling menyeluruh. Para ulama tafsir menyebutnya sebagai sayyidul ayāt—penghulu seluruh ayat—karena kandungannya mencakup fondasi akidah Islam secara utuh.

Asbābun Nuzūl Ayat Kursi

Dalam Tafsir ath-Thabari, diriwayatkan bahwa Ayat Kursi turun sebagai penegasan tauhid murni di tengah tradisi keagamaan yang masih dipenuhi konsep perantara, sesembahan, dan kekuatan kosmik selain Allah. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk mematahkan keyakinan Yahudi dan musyrikin Arab yang menganggap malaikat, nabi, atau makhluk tertentu memiliki otoritas ilahi atau kemampuan memberi syafaat tanpa izin Allah.

Ath-Thabari menekankan bahwa konteks turunnya ayat ini berkaitan erat dengan upaya Alquran meluruskan pemahaman tentang rububiyah dan uluhiyah Allah: bahwa kekuasaan, kehidupan, ilmu, dan pemeliharaan alam semesta sepenuhnya berada di tangan-Nya, tanpa celah sedikit pun bagi sekutu.

“Allāhu lā ilāha illā Huwa”

Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghaib menjelaskan bahwa kalimat pembuka Ayat Kursi adalah fondasi seluruh bangunan ayat. Penegasan “tidak ada Tuhan selain Dia” bukan sekadar penafian berhala fisik, tetapi juga penafian segala bentuk ketergantungan batin kepada selain Allah—baik kekuasaan, harta, maupun manusia.

Menurut ar-Razi, susunan kalimat ini sengaja diletakkan di awal untuk membersihkan hati sebelum memasuki pembahasan sifat-sifat Allah. Tauhid harus mendahului segala bentuk pengenalan terhadap sifat Ilahi.

Al-Ḥayy dan Al-Qayyūm: Kehidupan dan Penopang Semesta

Dalam tafsirnya, ar-Razi menyebut dua nama ini sebagai inti dari seluruh Asmaul Husna. Al-Ḥayy menunjukkan kehidupan Allah yang azali dan abadi, tidak didahului ketiadaan dan tidak diakhiri kematian. Sedangkan Al-Qayyūm bermakna Dia yang berdiri sendiri dan sekaligus menopang segala yang ada.

Ath-Thabari menegaskan bahwa penyebutan dua nama ini sekaligus membantah keyakinan bahwa alam berjalan dengan sendirinya. Setiap detak kehidupan, setiap gerak kosmos, bergantung sepenuhnya pada kehendak dan pemeliharaan Allah.

“Lā ta’khudzuhū sinatun wa lā naum”

Ar-Razi memberikan penekanan filosofis yang dalam pada frasa ini. Mengantuk dan tidur adalah tanda kelemahan makhluk, kebutuhan tubuh, dan keterbatasan energi. Ketika Allah menafikan dua hal ini dari Diri-Nya, itu berarti menafikan segala bentuk kekurangan secara mutlak.

Ayat ini, menurut ar-Razi, adalah bantahan halus namun tegas terhadap konsep ketuhanan yang menyerupai makhluk—sebagaimana keyakinan sebagian umat terdahulu yang membayangkan Tuhan bisa lelah atau beristirahat. (*)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.