KILASBABEL.COM, PANGKALPINANG – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang terus bekali warga binaan dengan memperkuat pembinaan kemandirian. Hal ini dibuktikan dari keberhasilan panen budidaya magot bernilai ekonomi, Senin (16/2/2026).
Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian peserta magang, Elisa Ratri Kristiyani, lulusan Peternakan Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta, yang melatih warga binaan mulai dari penetasan 3 gram telur hingga menghasilkan produk maggot dalam waktu sekitar 18 hari.
Kepala Lapas Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, menyampaikan bahwa program ramah lingkungan melalui penguraian limbah sampah organik ini tidak hanya berfokus pada panen magot, tetapi juga pengembangan produk turunan bernilai tambah. Magot akan diolah menjadi magot crispy sebagai pakan ternak, sementara sisa media dimanfaatkan dan diuji coba sebagai pupuk organik.
“Kami berharap dari budidaya magot ini lahir berbagai produk turunan yang dapat dibudidayakan oleh Warga Binaan sebagai bekal usaha saat mereka bebas nanti,” ujar Kalapas.
Senada, Kepala Sub Seksi Bimbingan Kerja dan Pengolahan Hasil Kerja, Eko Cahyono, menyampaikan budidaya magot merupakan bentuk pembinaan keterampilan yang aplikatif dan mudah diterapkan.
Menurutnya, pemanfaatan limbah organik menjadi pakan ternak alternatif dan pupuk organik memberikan nilai ekonomi sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kegiatan ini mengajarkan bahwa limbah jangan dilihat sebagai masalah saja, akan tetapi ada peluang yang dapat diolah menjadi produk bernilai,” jelasnya.
Baca Juga: TNI AL Sita 496 Ton Timah Selundupan
Sementara itu, Elisa menjelaskan bahwa budidaya magot memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly/Hermetia illucens yang berwarna putih kecoklatan dan efektif mengurai sampah organik. Larva ini mengandung protein tinggi, sekitar 35 hingga 45 persen, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bergizi untuk ikan dan unggas.
“Budidaya magot menjadi solusi ramah lingkungan karena mampu mengolah sisa makanan rumah tangga, limbah pertanian, dan sampah organik lainnya dalam waktu singkat,” ungkap Elisa.
Elisa menambahkan, budidaya magot mampu mengurangi sampah organik sekaligus menghasilkan pakan berprotein tinggi dan pupuk organik. Dalam 10 hingga 14 hari, limbah organik dapat diolah menjadi produk bermanfaat yang ramah lingkungan dan berpeluang usaha.
Baca Juga: Polres Belitung Gagalkan Peredaran Rokok Ilegal Skala Besar, Amankan 1,9 Juta Batang Rokok
“Hasil panen akan kami manfaatkan sebagai pakan ternak atau diolah lebih lanjut, sementara sisa media dimanfaatkan sebagai pupuk organik,” tambahnya.
Melalui budidaya magot ini, Lapas Pangkalpinang berharap warga binaan memperoleh keterampilan produktif, meningkatkan kepedulian lingkungan dan siap berwirausaha, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi saat kembali ke masyarakat.(eno/SP)






